20151110

Makhluk Dari Pojokan Dunia Lain Part. 2



Ngomong-ngomogn tentang sendirian nih, peran massa ternyata juga sangat luar biasa. Semua yang dalam jumlah banyak akan berakhir normal. Orang idiot dalam jumlah besar akan membuat orang normal terlihat idiot. Begitu sih gampangnya. Dan jika iman si orang normal gak kuat-kuat amat, maka mereka harus memilih menjadi idiot untuk terlihat normal. Nah lo.

Dan benar jika dunia amat sangat luas sekali. Di umur segini, harusnya pelajaran hidup sudah cukup untuk kita mengambil kesimpulan atau garis besar tentang suatu kejadian. misal saja sifat wanita, atau bahkan yang lagi in jaman sekarang masalah cinta. Ooh tapi tunggu dulu, dunia luar sekali dan benar saja istilah “Tuntutlah Ilmu Sampai  ke Negeri China”, jangan cepat puas menuntut ilmu mungkin memang hal yang benar adanya. Memang naif benar jika kita sudah merasa cukup dengan apa yang sudah kita dapa sampai saat ini, pojokan dunia kita tidak seluas itu. pindah ke kota ini memang pengalaman yang luar biasa buatku. Ternyata karakter manusia yang macam-macam memang benar. Dan.. ya bener aja gitu, buktinya yang aku temui disini. Karakter manusia umur 25-an lebih dikit yang seharusnya tau cara memposisikan diri dan tau gimana cara yang baik dan benar menilai orang lain, tau bahwa orang memiliki jalan hidup yang berbeda dan itu yang membentuk karakter serta jalan hidup yang mereka ambil saat ini. Tau bahwa hal yang di pojokan dunia milik mereka adalah hal yang remeh belum tentu punya nilai yang sama pada orang lain. Dan memilih untuk bersikap bodo amat adalah pilihan yang tepat agaknya bagi mereka. Tapi yah, positive thinking aja kali ya.

Makhluk Dari Pojokan Dunia Lain Part. 1



Yoow… kembali lagi.

Mau berbagi uneg-uneg. Jangan serius-serius ini hanya keluhan makhluk labil yang lagi sensitif. Jadi begini ceritanya, memang benar orang orang punya cerita masing-masing yang gak akan sama dengan orang lain. Dan itulah yang membentuk manusia sebagai makhluk yang unik. Tapi ada banyak makhluk-makhluk kampret yang merasa pojokan dunia jauh lebih luas dari orang lain dan merasa bisa menilai orang lain dengan standar mereka yang amat sangat rendah.

Jika saja tingkat intelejensia mereka lebih tinggi mungkin akan lebih asik aja berdialektika karena mereka tidak akan semudah itu mengeluarkan pendapat dan menerima begitu saja saat pendapat mereka disanggah. Contohnya, saat si makhluk kampret ini dengan jumawa menilai orang lain dan dikarenakan tingkt intelenjensia mereka yang begitu cetek mereka gak akan nyampe buat mikir jika konsekuensi saat mereka mengemukakan pendapat tentu akan ada pihak yang lain yang tidak setuju, tapi macam masa bodoh aja gitu, dan saat logika dan analogi pemikiran mereka dipertanyakan lagi ke mereka ada jawaban pamungkas gitu yang bisa bikin orang sabar bisa jadi murka yaitu

“Apaan sih loe?”
Nah pan elu yang mulai, kalo situ udah siap nglontarin pendapat harusnya udah punya jawaban dan latar belakang  yang jelas dong. Iya nggak si. Kalo elu AsBun aja berarti sudah rela kebodohannya terungkap di depan umum dan dengan berbicara tanpa berbikir yang merupakan salah satu tanda makhluk tak berpendidikan. Lu ngapain aja kuliah bertahun-tahun tapi masih pe’a aje. Bener dong gue.


Dan apakah aku harus menurunkan levelku hanya untuk menanggapai mereka? Kata orang mah ya keuleus. Dan berakhir ngedumel sendiri. Disini. Sendiri.